Twilight

buku twilight
Category : Books
Genre : Romance
Author : Stephenie Meyer
Alih Bahasa : Lily Devita Sari
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Maret 2008
Tebal : 520 hlm

Setiap kali mendengar kata twilight, ingatan saya langsung tertuju pada warna senja di langit ketika matahari hampir terbenam. Entah mengapa, sedari dulu saya selalu tegila-gla pada senja. Setiap senja selalu membawa kisahnya sendiri tentang hari itu. Kadang tentang hari yang ceria tapi tak jarang senja membawa kisah tentang hari yang suram dan sedih.

Saat pertama kali melihat sampul twilight di Gramedia MP Makassar, perasaan familiar langsung menyeruak. Judul yang pas dengan tampilannya. Ketika itu saya mengira buku ini bercerita tentang senja.

Sungguh amat tidak menyenangkan memasuki suatu lingkungan baru ketika kita sudah merasa nyaman di lingkungan yang lama. Mencoba beradaptasi dengan cuaca, lingkungan dan, teman-teman baru. Itulah yang dirasakan Bella. Bella yang sangat mencintai phoenix dengan musim panasnya yang hampir sepanjang tahun, terpaksa pindah ke Fork yang dingin dan suram. Dia memang tak pernah bisa mencintai Fork meskipun di kota kecil itu ada ayahnya. Terlalu hijau, terlalu lembab dan cuaca sangat tidak bersahabat. Tetapi tentu saja, ketika kita sudah memutuskan suatu pilihan, akan ada konsekuensi-konsekuensi yang mengikuti pilihan tersebut.

Di hari pertama Bella menginjakkan kaki di sekolahnya yang baru, semua mata tertuju padanya. dan dengan segera dia mendapat teman baru yang berbaik hati menunjukkan jalan ke kelas berikutnya, kelas Biologi. Bella tak pernah mengira di kelas itulah segalanya berawal. Pertemuan dengan Edward, yang berwajah malaikat dan sangat tampan. Semenjak Bella menyadari kehadiran Edward, perhatiannya seakan tidak bisa lepas dari Edward dan keluarganya, yang tampak sangat mencolok di tengah-tengah murid SMU Forks lainnya.

Mereka akhirnya semakin akrab ketika insiden demi insiden dialami Bella. Seakan-akan Bella mempunyai magnet yang menarik semua bahaya mendekat padanya dan mau tidak mau selalu menempatkan Edward sebagai pelindung. Beberapa keganjilan-keganjilan mulai tampak dan akhirnya membuat Bella selalu bertanya-tanya. Seiring dengan hubungan mereka yang semakin dekat, Bella tampaknya tidak menyadari akan adaanya bahaya yang mengancam jiwanya, bahkan kalaupun dia tahu, apa pedulinya. Dia mencintai Edward, hanya itu, dan hal lain pun menjadi tidak penting. Apa lagi yang bisa mengalahkan kekuatan cinta disaat sedang bergelora?

Seperti Bella yang selalu menarik bahaya, buku ini juga tampaknya menarik saya untuk sesegera mungkin melahap isinya dalam jangka waktu yang tidak lama. Saya sungguh tidak sabar menunggu kelanjutan cerita ini hingga tamat.

:: pernah diposting di napunyafoto.multiply.com – Aug 15, ’08 11:23 AM ::

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *